Candi Brahu Bukti Sejarah Kekuasaan Mojopahit - Tentang Perjalanan

All About Personal Documentation On Trip

Thursday, November 2, 2017

Candi Brahu Bukti Sejarah Kekuasaan Mojopahit

    Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit namun telah diaspal. Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya.



Ada pendapat yang mengatakan bahwa Candi Brahu lebih tua dibandingkan candi lain yang ada di sekitar Trowulan. Nama Brahu dihubungkan diperkirakan berasal dari kata 'Wanaru' atau 'Warahu', yaitu nama sebuah bangunan suci yang disebutkan di dalam prasasti tembaga 'Alasantan' yang ditemukan kira-kira 45 meter disebelah barat Candi Brahu. Prasasti ini dibuat pada tahun 861 Saka atau, tepatnya, 9 September 939 M atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Menurut masyarakat di sekitarnya, candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah raja-raja Brawijaya. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong.


Di sekitar kompleks candi pernah ditemukan benda-benda kuno lain, seperti alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda lain dari emas, serta arca-arca logam yang kesemuanya menunjukkan ciriciri ajaran Buddha, sehingga ditarik kesimpulan bahwa Candi Brahu merupakan candi Buddha. Walaupun tak satupun arca Buddha yang didapati di sana, namun gaya bangunan serta sisa profil alas stupa yang terdapat di sisi tenggara atap candi menguatkan dugaan bahwa Candi Brahu memang merupakan candi Buddha. Diperkirakan candi ini didirikan pada abad 15 M.



Candi Brahu menghadap ke Barat dengan ukuran denah dasar persegi panjang yang memiliki luas 18 x 22,5 m serta memiliki tinggi mencapai 20 m. Candi Brahu terbuat dari bata merah, namun berbeda dengan candi lain, bentuk dari Candi Brahu tidak berbentuk tegas persegi, namun memiliki banyak sudut - sudut, tumpul dan berlekuk. Lekukan - lekukan ini dipertegas dengan pola batu bata dengan susunan pada area dinding barat dan depan candi. Puncak candi juga berbeda tidak berbentuk  prisma bersusun ataupun segi empat, namun memiliki sudut banyak dengan puncak datar.

 Pada bagian dasar candi atau kaki candi memiliki dua susun. Pada bagian bawah memiliki tinggi yaitu 2 m, terdapat tangga pada bagian barat menuju selasar dengan lebar 1 m yang mengelilingi tubuh candi. Pada selasar pertama terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ke selasar ke dua. Pada selasar kedua inilah tubuh candi berdiri. Pada sisi barat candi, terdapat lubang semacam pintu dengan tinggi 2 m dari selasar kedua. Mungkin pada zaman dahulu terdapat tangga penghubung ke pintu tersebut namun tidak ditemukan dan menyulitkan pengunjung untuk masuk ke dalam tubuh candi. Konon ruangan Candi Brahu cukup luas dan bisa menampung sekitar 30 orang. Pada kaki candi tidak terdapat relief, namun dengan struktur tumpukan batu bata membentuk gambar pola geometris ataupun lekukan yang indah yang menjadikan pembeda dengan candi - candi lain. Pemugaran candi ini dilaukan pada 1990 dan diselesaikan pada 1995. Meurut masyarakat sekitar, dahulu juga terdapat candi - candi lain di sekitar Candi Brahu yaitu Candi Muteran, Candi Gedong, Candi Tengah dan Candi Gentong, namun sekarang tidak terlihat.






No comments:

Post a Comment